Skena Awul Awul Lahir Karena Fast Fashion

 Skena Awul Awul Lahir Karena Fast Fashion

Yup, selain Fast Food ada juga yang namanya Fast Fashion. Terus apa sih dampaknya Fast Fashion kan gak kita konsumsi di perut kayak Fast Food. Hmm.. mari kita luruskan terlebih dahulu kalau semua yang Fast pasti Bad. Apapun itu akan menyebabkan sesuatu yang buruk. Sama halnya di ranjang kalau terlalu Fast pasti kan Bad (:* Your mind travelling :*). Mari kita kembali ke Fast Fashion. Istilah ini digunakan oleh industri tekstil yang mempunyai berbagai macam model fashion yang silih berganti dalam waktu yang singkat, serta menggunakan bahan baku yang berkualitas buruk, sehingga tidak tahan lama. Misalnya, industri fast fashion akan memproduksi pakaian musim panas ketika musim panas, dan dalam musim dingin mereka akan memprroduksi pakaian musim dingin. Kebanyakan industri fast fashion akan memproduksi hingga 42 model fashion dalam waktu 1 tahun.

Thrifting alias Belanja baju bekas atau bahasa slangnya awul – awul awalnya muncul pada masa “Great Depression” dimana pada saat itu lebih baik membeli pakaian bekas daripada membeli pakaian baru. Namun, seiring ekonomi membaik kegiatan jual beli barang bekas mulai ditinggalkan. Thrifting sendiri berasal dari kata “Thrive” yang berarti berrkembang dan istilah “Thrifty” yang mempunyai arti sebagai pengelolan uang dan barang lainya secara efisien dan benar. Jadi pada kamus urban “Thrifting” memiliki arti sebagai sebuah kegiatan berbelanja untuk mendapatkan harga barang yang jauh lebih murah dan tidak biasa. Pada tahun 60 – 80 an Skena awul – awul mulai naik kembali berkat “Hippie” dan “Punk”. Pada tahun 90 an musisi juga mulai menjadi sorotan banyak media salah satunya adalah “Kurt Cobain” vokalis Nirvana yang selalu memakai flannel, jeans, dan sepatu converse.

Gaya hidup awul – awul ini membuat para anak muda dan kelas menengah mulai menerimanya karena merupakan gaya hidup yang ramah lingkungan. Dimana ngawul melawan Fast Fashion. Ngawul juga semakin naik pamor kala para influencer, artis, dan musisi mengunggah foto dan kegiatan mereka di sosial media. Seperti Nadin Amizah, Ben Sihombing, Aming, Hannah Al Rashid, Nino RAN, dan masih banyak lagi. Dengan naiknya pamor baju bekas di masyarakat kelas menengah menjadikan ini pedang bermata dua. Di satu sisi kesadaran Fast Fashion mulai naik. Namun, di sisi lainnya ini mulai menjadi “Gentrifkasi”. Hmm.. kata – kata apalagi itu. Oke simpelnya “Gentrifikasi” adalah fenomena yang sering terjadi pada tata kota dimana kaum kaya membeli properti di pemukiman kaum miskin. Kemudian harga properti di pemukiman kaum miskin menjad naik dan tidak terjangkau lagi oleh kaum miskin.

Pada awalnya awul – awul merupakan opsi agar kelas menengah lebih mudah berbelanja dengan harga yang relatif terjangkau. Namun, karena naiknya permintaan baju bekas berimbas pula dengan kenaikan harga. Karena penggelembungan harga baju bekas ini sangat bertentangan dengan konsep awal “Thrifting” itu sendiri. Dengan banyaknya penjual dan platform jual beli barang bekas menjadikan ini tidak lagi sebuah movement namun menjadi sebuah “komoditas” pendulang untung. Hal ini menjadikan kesenjangan antara kelas menengah dan menengah ke bawah.

So, bagaimana menurut kalian tentang “Thrifting” atau “Skena Awul – Awul” ini? Ada gak sih toko favorit kamu? Sharing di kolom komentar yuk guys.

Related post