Vojomusic Music Player

ALAM RAYA BERTERIAK!

Cheetoskejv - 12 January 2020
IMG

Tuhan dan Alam menangis melihat tingkah manusia pada jaman sekarang. Tanpa pamrih merekalah yang sebenarnya telah merawat kita membiarkan kita hidup dan menginjak tanah bumi ini, tetapi tanpa rasa apapun kita menyakitinya dengan gampang, dan tanpa berpikir pula ketika kita matipun akan kembali kepada tanah bumi yang kita sakiti.

Apakah ini cara kita berterima kasih kepada alam? Setelah apa yang mereka berikan kepada kita, cukupkah kita menjaga alam yang telah memberikan kita pemandangan dan udara agar kita tetap hidup? Terlalu mengejar sebuah angka untuk “Gaya Hidup / Tuntutan Hidup” kita lupa akan porsi kita sebagai manusia yang diciptakan untuk saling menjaga apa yang telah Tuhan dan Alam berikan. 

HUTAN BERTERIAK

Manusia, makhluk yang Tuhan ciptakan sangat sempurna memiliki akal pikiran, tetapi hal tersebut membuat manusia sangat pintar sehingga lupa bahwa sudah melapau batas dengan menyakitkan alam yang telah lebih lama menyayangi kita. Baru-baru ini Dwipantara (Bahasa Sansekerta) kita sudah sakit, mengertikah kalian arti sakit? Tanpa ada yang sadar banyaknya permasalahan yang datang akhir-akhir ini adalah salah satu teguran oleh “Ibu Alam”. Jika kita diberikan akal pikiran yang sehat, kenapa kita tidak memikir sejenak melihat apa yang sudah terjadi, dan samasama evaluasi untuk menjaga alam kita. 

Berkembangnya suatu teknologi tidak menolong suatu alam yang sedang sakit, justru alam malah menangis. Penghuni asli yang di bungkam oleh uang, merelakan alamnya hanya untuk sebuah angka. Berkaca pada Negeri Samurai mereka banyak belajar dari bencana yang menimpa negeri mereka. Ilmuwan di sana dengan begitu tekun membaca semua gejala alam, membuat hipotesis, mengumpulkan data, dan menyimpulkan “kehendak semesta”. Hasilnya? Bangunan-bangunan didesain agar tahan terhadap gempa bumi, ruang publik siap untuk digunakan sebagai tempat evakuasi, kurikulum sekolah mengajarkan siswa agar tanggap bencana, dan sebagainya. Memiliki akal pikiran bukan berarti bisa di anggap pintar juga, atau terlalu pintar membuat kita lupa akan pintar yang sehat. 

Ketika manusia mengganggu keseimbangan itu, maka harus ada upaya agar alam tak enggan melihat tingkah kita. Saling tunjuk tanpa ada pembenahan dari diri sendiri, menyalahkan reformasi tapi malah membuat semakin rusak. Atau kita menunggu kematian untuk sadar?


Burung bersiul malapetaka, Gurun menatap dingin manusia, laut dan pegunungan kecewa, Kudeta besar alam semesta - . Feast 

IBU ALAM BERTERIAK DALAM KESUNYIAN