VOJOMUSIC - Pada tanggal 2 Maret 2020 yang lalu dilansir dari Bloomberg music streaming bernama Spotify mengumumkan kabar buruk bahwa mereka akan berencana meminta label dan musisi membayar untuk beriklan di aplikasi dan layanannya. Jadi Spotify memberi ruang iklan dan prioritas pada lagu yang dibayar oleh label atau musisi. Tools baru ini bernama Spotify Marquee. Dahulu praktik seperti ini sudah lama dilakukan oleh label lawas dengan cara membayar atau dalam tanda kurung meyuap radio untuk memainkan lagunya.

Memang faktanya Spotify masih merugi dikarenakan pembayaran royalty yang menggunung. Dikarenakan mayoritas pasar didominasi oleh tiga label raksasa yaitu Sony, Universal, dan Warner. Oleh karena itu kebanyakan royalty akan langsung mengalir ke semua rekening ketiga label tersebut. Tahun lalu rata-rata royalty yang dibayarkan Spotify kepada artis adalah 0,0032 dolar per streaming. Jika dirupiahkan sebesar 50 rupiah. Dari 100% keuntungan 52% akan dibayarkan langsung ke label, hanya 15% yang akan sampai ke tangan musisi.

Permasalahan ini membuat artis independen level menengah ke atas yang melalu perantara label atau secara langsung melalui distributor seperti Tunecore dan CD Baby tambah merana. Karena, mereka akan mengambil bayaran di muka dan 30% dari royalty akan diambil untuk label dan distributor. Dilansir oleh tirto.id band asal Surabaya Silampukau juga mengaku jika secara nominal keuntungan finansialnya bisa dibilang cukup kecil. Mereka lebih mengandalkan penjualan merchandise dan CD serta manggung secara offline.

Sebelumnya Spotify for artist pernah muncul namun sempat dicabut juga dan kembali lagi harus mengupload melalui distributor atau label. Spotify for artist dipandang sebagai backdoor agar mereka juga dapat meraup keuntungan juga. Namun, para tiga label besar ini akan mengancam menahan lisensi musik mereka. Pada intinya tekanan terhadap tiga label besar ini membuat musisi tak bisa lagi mengunggah karyanya secara langsung.

Harapan untuk musisi dan label independen bisa jadi berada pada platform lain yang memungkinkan musisi berjualan langsung kepada fansnya. Seperti bandcamp yang dikenal lebih ramah terhadap musisi. Dengan hanya memberikan potongan 10 – 15% dari setiap penjualan yang ada. Berbanding terbalik dengan Spotify royalty yang diterima hanya 10 – 15% dari keseluruhan pemasukan. Meskipun Spotify lebih terkenal namun Bandcamp dinilai lebih ramah. Namun, Bandcamp hanya menggunakan pembayaran via paypal dimana pembeli lokal belum familiar untuk menggunakannya.

Ketika lampu panggung padam, banyak venue yang tutup, festival yang ditunda, musisi yang hilang penghasilan. Kami Vojomusic sebagai platform yang baru juga berusaha membantu dan memberikan solusi bagi musisi Indonesia. Dengan menyediakan marketplace untuk berjualan merchandise dan dengan cara musisi dapat mengupload secara langsung di platform kami. Serta menaikan informasi berita – berita mengenai musisi. Namun, kami pun butuh kalian para musisi untuk meramaikan platform kami. Karena ketika tidak ada musisi yang meramaikan dan menggunakan mungkin kami juga akan gulung tikar. Oleh karena itu pada bulan ini tim kami juga akan memilih dan berkomunikasi dengan kalian musisi dan fans untuk survey lebih lanjut apakah ada alternative lain yang bisa kami bantu sebagai platform. Akhir kata sehat selalu kawan – kawan, semoga ini cepat selesai dan kami bisa bertemu kalian lagi. Terimakasih. Salam apresiasi.